Tampilkan postingan dengan label CeRpeN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CeRpeN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2009

SETELAH KAU MENJADI KEKASIHKU (BAG. 2)

Semua itu akan membuatku sangat puas kalau saja Idan mau menolak, memprotes, mengeluh, atau bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh, tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Makin lama aku makin menyadari kelembutan dalam suaranya ? yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran -- dan kelelahan di matanya ? yang aku tahu hanya bisa datang dari keputusasaan. Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti kasihan, sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan. aku mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi setiap kalimat yang kuucapkan, dan
aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu. Selama tiga tahun persahabatanku dengan Dani, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?.................

Aku tahu permintaanku wajar. Aku tahu aku berhak meminta Dani menemaniku ke mana pun. Dan ia juga sama bersalahnya denganku karena mengobarkan pertengkaran konyol itu. Hanya saja ia lebih berbesar hati untukmenyingkirkan pertengkaran itu sementara aku justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang dalam kontes kedewasaan ini?

seminggu sudah aku berada di rumahku,hari minggu itu Dani datasng ke rumahku
"sudah sembuh,Layla?"tanyanya
"Ya"
"maafkan aku atas kejadian minggu lalu. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku minggu lalu.."
Aku menunduk, bersembunyi dari ketulusan di matanya. Kulirik jam di atas mejaku. Pukul setengah sepuluh.

"Tidak main futsal?" a menggeleng .

"Aku mau memberi kesempatan pada Agus. Sudah dua bulan dia cuma duduk di bangku cadangan."

Aku tersenyum.

"Dia kurang berani menyerang. Tidak segesit aku. Maklum sudah agak gemuk. Tapi, siapa tahu," ia mengangkat bahu dan tersenyum.

"Kau mau pergi memancing nanti sore?"

Ia menggeleng lagi.

"Kenapa?"

"Aku harus memberi ke sempatan ikan-ikan itu berkembang biak,. Kalau kutangkapi terus, mereka bisa punah."

"Kalau kau memancing lagi, tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka, ya."

" Terima kasih untuk apa?"

Untuk menunjukkan sisi lain dari Dani yang tidak kuketahui sebelumnya, batinku.
Tapi yang keluar dari mulutku adalah, "Karena meminjamkanmu untukku hari ini."
Senyum Dani serta merta surut. Diulurkannya tangannya dan disentuhnya lenganku.
"Lain kali kalau kau ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari
sebelumnya? Bukannya aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan
teman-temanku, aku tidak bisa begitu saja membatalkannya kan?"

Aku mengangguk dengan leher tersumbat.

"Aku juga janji klalau kau kau datang kerumahku tidak akan sering nonton film komedi lagi," katanya kemudian.
"Kita memang perlu ngobrol lebih sering. Jangan menangis, Layla Nanti air jerukmu asin."

"Selamat ulang tahun, Layla."

Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. "Dani! Untuk apa kau sepagi ini di kamarku!"

"Memberimu selamat ulang tahun," jawabnya polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi tempat tidur dan menarikku hingga berdiri.

"Ayo! Aku mau menunjukkan
hadiah ulang tahunmu dariku!"

Ia menyeretku ke meja kerjaku dan menyuruhku duduk di depan komputerku.dan menyalakan komputerku dan duduk di sebelahku dengan mata berbinar. Sambil tersenyum geli, aku mencoba menebak apa yang telah disiapkan Dani untukku. PC? Personal website, dengan foto dan lagu? Aku menggeleng dalam hati, Dani tidak cukup romantis untuk itu.

"Kau lihat?" Dani memotong renunganku.

"Apa?"

"Hadiahku."

Keningku berkerut. Tidak ada yang berbeda dengan tampilan komputer itu. Dengan ragu kuraih mouse dan mengklik tombol Start. Tidak ada yang berubah. Tapi Dani
kentara sekali menjadi semakin antusias. Setelah membuka file-file-ku dan sekali lagi tidak menemukan apa pun, aku berpaling kepada Dani dengan ekspresi tak
berdaya.

"Kau tidak menemukannya?" tanya Dani, dengan setitik kecewa dalam suaranya.

Aku menggeleng.

"Aku menambah memori komputermu," akunya kemudian. Dan melihat raut wajahku yang tak berubah, menambah.

"Komputermu sekarang bisa bekerja lebih cepat."

Aku ingin sekali berbagi kegembiraannya. Ia kelihatan begitu bangga dengan hadiahnya, setidaknya beberapa detik yang lalu, sebelum ia sadar bahwa aku
kecewa.
"Oh ," hanya itu yang bisa kukatakan. "Terima kasih."
"Kau boleh memelukku kalau mau," katanya tersenyum dan membentangkan kedua
tangannya. Kupukul lengannya dan tertawa. Dan pagi itu berlalu seperti hari-hari
lalu.

Di kantor teman-temanku menyambutku dengan ucapan selamat dan senyum pernuh arti. Ketika aku memasuki ruang kerjaku, aku mengerti kenapa mereka tampak
seperti menyembunyikan sesuatu. Di meja kerjaku ada sebuah kotak panjang dengan tutup selofan. Setangkai mawar putih. Sesaat jantungku rasanya berhenti berdenyut.

Hati-hati kuambil kartu yang menempel pada kotak itu, lupa seketika kepada teman-temanku yang pasti mengawasi lewat kaca ruang kerjaku.

Selamat ulang tahun. Masih ingatkah kau kepadaku? Jika ya, aku menunggu di tempat biasa. Mungkinkah?

Aku keluar untuk makan siang lebih awal, mengabaikan godaan teman-temanku yang tak kenal ampun.


Dalam perjalanan aku kembali memikirkan mawar putih itu. Sejak aku melihatnya, aku tahu kalau itu bukan dari Dani. Dani mustahil bisa seromantis itu. Hanya satu orang yang kutahu pernah dan selalu memberiku mawar putih. Dan ia adalah milik masa lalu yang tak pernah kubayangkan bisa dan akan kembali. Tapi pesan
itu?

Restoran itu masih seperti yang kukenang. Sederhana dan tidak mencolok di bagian luarnya; tetapi begitu aku masuk, aku menemukan kedamaian dan ketenangan dalam interiornya yang lapang dan asri, dengan kolam-kolam kecil berisi teratai merah jambu dan putih serta suara gemericik air terjun buatan di sepanjang satu
dindingnya.

Tidak ada yang berubah. Dan meja nomor lima itu masih sedikit di sudut, terhalangi serumpun gelagah. Ketika aku menghampiri meja itu, aku tidak lagi merasa sebagai Layla yang berusia tiga puluh tahun, yang dewasa dan percaya diri, tapi seorang gadis berusia dua puluh tahun, yang tercabik di
antara cinta dan ambisi. Di meja itu harusnya seseorang menantiku, seperti sepuluh tahun yang silam. Sebagian hatiku mengingatkan untuk tidak terlalu berharap. Masa lampau mustahil kembali lagi.

Tapi segalanya masih begitu serupa dulu, hingga aku sulit memisahkan kini dan saat itu.

Apalagi saat lelaki di meja itu bangkit menyambutku, menggenggam tanganku dan mengucapkan namaku. "Ita," kelembutan suaranya masih seperti yang kuingat. Dan
wajahnya, walau mulai sedikit berkerut, masih persis seperti yang kukenang. "Kau datang."

"Halo, Set," sapaku sembari duduk di hadapannya, tak melepaskan mataku dari senyumnya. Aku tiba-tiba sadar dengan rasa rindu yang lama tak pernah kugubris,
dahaga yang bertahun-tahun tak kuizinkan untuk ada. Perasaanku berkecamuk, galau yang belum pernah lagi kurasakan tentang siapapun juga. Menggelikan sekali kalau seorang perempuan seusiaku masih demikian terguncang karena pertemuan dengan bekas kekasihnya.

"Terima kasih mawarnya," ujarku, sedatar yang mampu kulakukan. Sayangnya getaran di suaraku membeberkan semuanya.

"Kau masih ingat."

"Aku tak bisa lupa, meski mau sekalipun," katanya tersenyum. "Kapan kau pulang?"

"Tadi pagi."

"Dengan anak istrimu?"

Seto tertawa kecil. "Ini agak memalukan. Tapi aku masih sendiri, Layla."

Jawabannya begitu mengejutkanku hingga sesaat aku tak tahu harus mengatakan apa.

"Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan siapa pun selain denganmu," senyumnya padam dan di matanya bergelora lagi pesona yang pernah dan mungkin
masih bisa meluluhkan hatiku. "Sepuluh tahun aku mencari, dan aku tetap tak bisa menemukan penggantimu."

Aku menunduk, bibirku terkatup erat. Sepuluh tahun lalu, di tempat ini juga, ia melamarku, dan aku menolak. Aku tak bisa membiarkan peluang karier yang telah susah payah kurebut tersia-sia begitu saja, bahkan untuk satu-satunya lelaki yang ingin kunikahi. Aku tak bersedia hanya menjadi bayangannya, terperangkap
dan layu di negeri asing, walau ia adalah orang yang menguasai separuh jiwaku. Dan ia pergi. Di awal perpisahan surat-suratnya datang dengan teratur, tak satu
pun kubalas. Bertahun-tahun ia tetap mengirim kartu ulang tahun dan Lebaran, yang semua kubakar, sampai aku tak lagi peduli, sampai suatu hari tidak ada lagi kartu yang datang.

Dan dengan sedih aku harus mengakui bahwa lelaki sesempurna Seto pun suatu ketika akan melupakanku.

"Kau sendiri bagaimana, Layla?"

"Aku sekarang editor senior," jawaban itu terdengar menyedihkan, hampa makna. Apa artinya seuntai jabatan di sisi... cinta? Kesetiaan?
"Selamat!" ia kedengaran tulus, tapi di hatiku kata itu menyakiti. "Aku selalu yakin kau yang terbaik untuk pekerjaan itu."

"Kau pernah ingin merenggutku dari ini semua," ujarku lirih. Apa jadinya kalau dulu kukatakan "ya "?
Sepuluh tahun bersama Seto, seperti apa? Ia menggeleng.
"Aku hanya memintamu memilih."

Matanya tertambat pada cincin di jari manisku. Suaranya pelan saat ia bertanya, ?Kau sudah memiliki kekasih?"

Aku mengangguk. Ia tertawa kecil, agak gugup . "Siapa?" tanyanya lirih.

"Dani," jawabku kaku.
"DAni? Dani temanmu?"

"Sahabatku."

"Sahabat mu," desahnya. "Sudah berapa lama?"

Aku menggeleng. " satu tahun," bisikku.

Seto menatapku lekat. Dua kali ia tampak seolah akan bicara, tapi setiap kali, ia berhenti. Akhirnya, dengan senyum kecil ia mengeluarkan sebuah kotak mungil
dari sakunya.

"Aku...," dibukanya kotak itu. "...Aku sendiri menganggap diriku gila, karena membawakanmu ini. Tapi, Ta, maaf kalau aku terus-terang seperti ini, di benakku kau masih Layla-ku yang dulu. Aku tahu dalam sepuluh tahun segalanya bisa terjadi dan kau pasti sudah memiliki kekasih atau sudah menikah. Tapi...." Dikeluarkannya sebuah gelang mungil berhias batu-batu semi-mulia.

Aku terkesima.

"Aku tahu kau suka perhiasan antik. Ada kenalanku yang membuka toko barang antik di Muenchen. Aku membeli ini darinya," tanpa meminta izinku, ia telah memasangkan gelang itu di tanganku.

"Terima k asih," gumamku terpesona. "Cantik sekali."

"Kau suka?" Aku mengangguk. Dan teringat lagi hadiah ulang tahun dari Dani. " Kau....Sebetulnya kau tidak perlu repot-repot...," suaraku keluar dengan susah payah.

"Sebetulnya aku mau membawakanmu karpet antik yang aku yakin akan membuatmu tergila-gila. Aku sudah membelinya karena itu mengingatkanku padamu. Setiap kali aku berbelanja barang antik aku tak bisa tidak mengingatmu," ia tertawa kecil.
"Tapi aku tidak bisa membawanya ke sini. Bawaanku sudah banyak sekali. Ibuku memesan oleh-oleh untuk semua sanak famili dalam radius dua ratus lima puluh
kilometer."

Aku tersenyum kecil. Tapi dalam benakku berkelebat pertanyaan demi pertanyaan. Apakah Dani tahu hadiah seperti apa yang akan membuatku bahagia?Apa ia mengenal selera dan kegemaranku? Aku menggeleng dalam hati. Tidak. Tidak . Seto masih bicara panjang lebar tentang bisnis yang dilakukannya di Jerman. Aku kembali diingatkan tentang kecerdasan dan keluasan wawasannya. Apalagi sepuluh tahun berada di negara lain telah menjadikan Dani yang dulu kukenal lembut dan
peka, semakin lapang hati dan terbuka. Kalau ada yang berubah dalam dirinya, semua itu hanya menjadikannya sempurna. Dan pikiran itu menorehkan nyeri dihatiku.
Sudah terlambat, sambatku kepada diri sendiri. Ia bercerita tentang barang-barang antik yang juga jadi salah satu kegemarannya.
"Kalau saja kau bersamaku, Ta," katanya dengan mata berbinar.
"Kita bisa menghabiskan waktu mengaduk-aduk Eropa mencari barang antik...."

Ia melihat ekspresi wajahku dan berhenti bicara. "Maaf," katanya sejenak kemudian.

"Aku harus kembali ke kantor," gumamku kaku.

"Baiklah. Mau kuantar?"
"Aku ada mobil."

Ia menahan tanganku saat aku hendak berdiri. "Layla, aku tahu semuanya berbeda sekarang. Tapi, kalau kau tidak keberatan, bisakah kita bertemu lagi sekali-sekali selama aku di sini? Aku perlu teman yang bisa mengantarku
jalan-jalan mengunjungi galeri dan art shop." Undangan yang sangat menggoda, yang memenuhi benakku serta merta dengan masa lalu dan janji akan sesuatu yang lebih istimewa lagi, kalau saja aku bisa mengucapkan ya.

SEto membaca keraguanku dan sesaat sorot matanya meredup. "Kita bisa jalan-jalan bertiga, kau, Idan dan aku," katanya. "Aku tidak punya banyak teman di sini."

"Aku pikir-pikir dulu," jawabku cepat-cepat, sebelum hatiku dikuasai kehausan untuk berlama-lama dengan Seto.

Seto merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Dibelakangnya ia menuliskan sederet nomor. "Hubungi aku kalau kau bersedia. Aku menunggu."

Malamnya aku berbaring di kamar, menatap kartu itu lekat-lekat seperti gadis belia yang sedang mabuk kepayang. Aku bukan remaja lagi dan seharusnya aku
lebih bisa menguasai diriku sendiri. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku sendiri. Kehadiran Seto membangunkan lagi semua harapan dan khayalan yang kukira telah lama lenyap. Tapi masih adakah kemungkinan antara aku dan Seto? Ia mengira dan aku telah meyakinkannya, kalau aku telah memiliki kekasih dan segalanya telah berakhir. Yang ia tidak ketahui, pacaran dengan Dani hanya sebuah permainan yang bisa
kusudahi kapan pun aku mau. Tapi, kalau pun ia tahu, apakah segalanya akan berbeda? Apa pendapatnya kalau
aku menceritakan semua padanya?

Aku ingin tidak memikirkan Dani lagi. Apa yang kuharapkan bersamanya mustahil terjadi. Tapi, menjadi kekasih Dani seperti ini selamanya juga tidak mungkin. Semua ini hanya sandiwara yang akan berakhir, cepat atau lambat. Apakah kembalinya Seto suatu kesempatan kedua yang semestinya kuraih karena mungkin tidak akan pernah ada lagi?Tapi bagaimana?

Kiriman bunga kedua datang dua hari kemudian.

Aku memikirkanmu.

Tahukah ia bahwa aku pun tak bisa menghapuskan senyum, mata, wajah dan suaranya dari benakku?

Kotak mawar yang ketiga datang di akhir pekan.

Maaf kalau kau menganggapku lancang karena terus mencintaimu. Tapi bisakah kau menghentikan badai?
Aku tak bisa. Aku bahkan tak kuasa membendung gemuruh di hatiku sendiri. Aku ingin bersamanya, selamanya. Dan itu mustahil.

Sore itu, sebelum aku pulang, kutekan nomor yang sudah kuhapal diluar kepala itu. "Kalau kau ada waktu, kita bisa melihat pameran lukisan di galeribaru dekat kantorku."

"Kau yang menentukan apa aku punya waktu atau tidak, Layla."

Dan esok harinya kuhabiskan bersama Seto, mendiskusikan lukisan dan benda seni, sesuatu yang lama ingin kuulangi lagi. Aku tak bisa memungkiri betapa
menyenangkannya bercakap-cakap dengan Seto, membicarakan seribu satu hal yang tak pernah kusinggung saat bersama Dani. Setelah lama membicarakan masalah seni rupa, Seto tiba-tiba bertanya.

"Kenapa kau berpacaran dengan Idan?"

"Kenapa kau bertanya?"

"Seingatku, ia bukan tipemu." Aku tertunduk.

"Kenapa, Layla?"

"Dani mencintaiku ," bisikku pelan.

"Apa kau mencintainya."

Kebisuanku mem berinya jawaban.

"Apa kau bahagia?" lanjutnya lirih.

Kutatap matanya yang teduh dan hangat. "Ya."

"Jangan berbohong."

"Dani Kekasih yang baik."

"Tapi apa kau bahagia?"

Bagaimana mengatakan bahwa aku tidak pernah merasa sebahagia saat itu, melewatkan waktu bersamanya?

"Berapa lama kau Menjadi kekasih Dani?"

"Setahun."

"Maaf kalau ini menyinggung perasaanmu. Tapi apa kau menjadi kekasihnya karena terpaksa? Karena usia dan...."

"Stop." Aku bangkit dan meninggalkannya.

Maafkan aku kalau perasaanmu terluka karena pertanyaanku. Tapi bisakah kau renungkan perasaanku sendiri?

Kartu itu bergetar ditanganku dan tulisannya kabur dalam genangan air mataku.

"Layla," tanya sekretarisku yang, entah kapan, telah memasuki ruangan. "Ada apa?"

"Tidak apa-apa," bisikku, mencoba mengendalikan diri. "Tolong keluar sebentar. Aku harus menelepon Dani."

Begitu ia keluar, dengan sangat enggan kudial nomor kantor Dani. Aku tiba-tiba sadar bahwa sejak menjadi kekasihnya aku tak lagi pernah mengadu dan bertanya kepadanya tentang segala hal yang menyangkut hati dan perasaan. Dan kini, aku tahu aku sangat membutuhkan masukannya, seperti dulu, sebelum ia menjadi kekasih simulasiku.

"Dani."

"Layla? Ada apa pagi-pagi begini?"

"Aku .... Kau tahu ..., " aku terbata. Bagaimana mulai menceritakan kepada kekasihku -- walaupun hanya simulasi -- bahwa aku sedang dirundung kasmaran kepada
lelaki lain? Dani tidak akan marah, aku tahu. Dia tidak berhak untuk itu. Tapi itu tidak membuat segalanya mudah. Ia bukan lagi sekadar seorang sahabat tempat
curahan keluh kesah dan semua masalahku. Ia adalah Kekasihku, simulasi atau bukan sekalipun. Dan menceritakan hal seperti kartu dari Seto dan bunga mawar putihnya terasa sangat tidak pantas dan kejam untuk dilakukan. "Ya?" desak Dani.

"Aku.... Dani, kau kenal Indri, kan?"

"Sekretarismu? Tentu."

"Bekas pacarnya yang pilot itu kembali."

"Lalu?"

"Sekarang mereka sering bertemu. kekasih Indri tidak tahu, tentu. Tapi sekarang Indri bingung. Ia mengaku jatuh cinta lagi dengan bekas pacarnya itu. Dan si bekas pacar ini pun ingin menikahi Indri."

"Tapi Indri sudah lama berpacaran dengan kekasihnya?"

"Ya. Tapi menurut si pilot ini, punya pacar atau punya suami bukan masalah. Mereka boleh memilih dengan siapa."

"Lalu apa hubungannya semua itu denganmu?"

Aku menghela napas. "Indri bertanya apa yang mesti dia lakukan. Aku tak bisa menjawab."

"Dan kau bertanya pada pak gurumu. Baik. Eh! Tunggu sebentar," meskipun ia menutup mikrofon telepon, aku bisa mendengarnya berteriak kepada seseorang di
ujung sana, "Tunggu sebentar ! Ya, mulailah dulu. aku menyusul." Dan jantungku rasanya melesak ke dalam bumi.

"Maaf. Mereka benar-benar tidak bisa apa-apa tanpaku .," suara Dani kembali di telepon.

"Karena kau yang membuatkan kopi?"

"Kau!" ia tertawa, lalu segera kembali serius. "...Kupikir Indri dan mantan pacarnya terlalu egois. Mereka tidak bisa lagi hanya memikirkan keinginan mereka sendiri.
Ada pacarnya yang harus diperhitungkan."

"...Tapi kalau Indri tidak bahagia lagi berpacaran dengan Pacarnya, apa itu harus dan bisa dipertahankan?"

"Sebaiknya kau tanya Indri, apa dia benar-benar mencintai bekas pacarnya itu, atau mereka hanya terpesona dengan nostalgia masa lalu? Apa mereka benar-benar saling membutuhkan atau mereka hanya ingin mengulang keindahan masa pacaran mereka dulu? Kalau hanya itu yang mereka inginkan, mereka akan kecewa kalau
terus bersama, karena Indri dan mantan pacarnya sudah jadi orang-orang yang berbeda, sudah lebih dewasa, bukan lagi remaja yang masih hijau."

"Indri bilang dia hanya mencintai lelaki itu, bukan kekasihnya Ia tidak pernah mencintai kekasihnya yang sekarang ."

"Kalau begitu kenapa dulu ia menerima untuk menjadi kekasihnya ?"

"terpaksa."

"Astaga. Kasihan sekali."

"Jadi bagaimana?"

Dani diam sejenak. "Aku tidak tahu, Layla. Yang aku tahu, aku tidak mau jadi penyebab ketidakbahagiaan seseorang. Kalau aku sarankan Indri untuk meninggalkan mantan pacarnya, siapa tahu ia tidak akan pernah bahagia . Kalau ia meninggalkan kekasihnya yang sekarang, aku juga tidak menjamin ia akan bahagia dengan orang yang hanya mengenalnya dipermukaan, tidak utuh, seperti kekasihnya." "Lantas aku mesti bilang apa?"

"Sampaikan saja petuahku ini kepada Indri. Bilang saja ini saran dari pakar percintaan kelas dunia yang reputasinya tidak diragukan lagi."

"Kau sama sekali tidak membantu," desahku.
"Ini bukan keran bocor atau teve rusak yang bisa diperbaiki begitu saja, Layla. Sedangkan memperbaiki teve rusak saja aku menyerah, jangan lagi mengurusi percintaan orang

"Bodohnya lagi, aku bertanya kepadamu."

"Itulah, Layla. Aku sendiri heran kenapa aku mau membuang waktuku dan terpaksa terlambat ikut rapat untuk memberimu saran yang tak berguna."

Aku tertawa pahit. "Ya, sudah. Pergilah buat kopi sekarang. Terima kasih untuk saran dan waktumu."

"Sama-sama. Oh! Bosku ke sini. Aku harus pergi. I love you, Darling!" ia berteriak. Lalu kudengar suaranya, sed ikit jauh dari telepon. "Iya, Pak, sebentar....."

Kututup telepon, tiba-tiba merasa begitu dingin dan sendiri.

Pilihan yang sulit: Dani atau Seto?

Kita tidak bisa bertemu lagi Seto," ujarku kepada Seto di telepon. Separuh
jiwaku rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu kuucapkan. "Kenapa? Dani melarangmu?"

"Dia tidak tahu apa-apa."

"Kenapa kau terus memikirkan dia, Layla. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau sudi menghabiskan waktumu dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau
bisa mendapatkan semuanya?"

Kugigit bibir ku saat setetes air bergulir di pipiku.

"Layla, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku kepadamu dan hidupmu baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Dani, hidup kita
hanya mimpi, cacat, timpang. Dan kita baru akan memulai hidup, setelah kita bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa, Layla, tidak juga masa depan, tapi berdua, kita akan miliki segalanya ...."

"Hentikan," potongku dengan suara bergetar.

"Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu disuruhmundur. Tidak ada yang lebih penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali denganku."
"Aku tidak bisa ...."

"Kenapa tidak?"

Ya, kenapa tidak. Pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang. Tapi tetap hanya sekadar sandiwara. Tapi kenapa rasanya berat sekali memutuskannya?

"Kau tidak mencintai Dani, Layla. Kau berbeda dengannya, jadi bukan kesalahanmu kalau kau tidak bisa mencinta inya. Satu-satunya perasaan yang layak kau simpan
untuknya cuma iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu dan ia akan selamanya menjadi kekasih perempuan yang mencintai lelaki lain."

"Aku .."

"Akuilah, Layla, kau mencintaiku. Kebersamaan kita adalah takdir."


Kututup mikrofon dengan tanganku dan menghela napas panjang. Seluruhtubuhku rasanya terbakar dan lunglai dan dunia seperti berputar makincepat. Kupejamkan mataku.

"Aku tidak mencintaimu," gumamku.

"Lebih keras lagi."

"Aku tidak mencintaimu."

"Kau berbohong."

Lama sekali aku terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan, "Ya."

"Layla," suara Dani gemetar. "Aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia."

Aku tahu sejak awal bahwa permainanku dengan Dani akan berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatiku tetap enggan berdamai dengan kenyataan bahwa aku harus bicara padanya tentang perpisahan. Aku sadar bahwa Dani sendiri tidak berhak dan tidak mungkin menghentikanku. .
Mustahil ia akan menolak berpisah denganku. Apalagi, aku juga tahu ia sangat menyayangiku dan ingin aku bahagia.
Dan aku tahu, keputusan untuk kembali kepada Seto adalah yang terbaik untukku dan masa depanku, sesuatu yang pasti akan didukung oleh Dani. Aku yakin keputusanku itu tidak merugikan siapa pun. Kenapa aku harus segan menyampaikannya pada Dani? Mula-mula aku berjanji kepada diriku sendiri untuk mencari waktu yang tepat. Tapi saat itu tak pernah datang. Setiap kali, aku dilanda keraguan dan akhirnya membatalkan niatku. Seto tidak bisa mengerti itu. "Aku ingin kau menerimaku
sebelum aku kembali ke Jerman, Layla. Dan aku hanya di
sini sepuluh bulan lagi."
"Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi ... Entahlah."

"Apa kau tidak yakin aku akan membuatmu bahagia?"

"Aku ...." aku tergagap dan menggeleng.
"Jadi, bicaralah dengan Dani."

Sore itu, aku pulang dengan hati berat. Aku sudah bertekad untuk bicara dengan Dani malam itu juga.. Begitu aku tiba di rumahku, Dani sudah menungguku di teras. Matanya berbinar dan wajahnya berseri saat aku
mendekati teras, hingga aku jadi berpikir, ada apa sebenarnya.

"Kenapa kau sudah ada disini?" tanyaku.

Dani menyilangkan telunjuknya di depan bibir
.

"Ada apa?"

"Sst!"

Dengan bangga dibukanya kotak yang berisi kalung indah dengan permata-permata kecil yang menghiasi kaling itu.

"Ini hadiah ulang tahun pertama pacaran kita," katanya.
Mataku beralih cepat dari kalung itu. Wajah Dani benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajahku yang pasti telah berubah warna.

"Aku ... aku tidak punya hadiah apa-apa," gumamku sambil kembali menatap kotak yang berisi kalung itu, menyembunyikan kalutku. "Aku lupa ...."

Dani tertawa. "Kau bahkan tidak ingat ulang tahunmu sendiri," katanya.
Tak tahu mesti mengatakan apa. Aku benar-benar tidak
ingat bahwa setahun lalu hari itu, aku menjadi kekasih Dani, simulasi. Kenapa Dani harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara aku sendiri sama sekali tak mengingatnya?

Dani menceritakan sebuah kejadian lucu di kantornya, tapi aku sama sekali tak mendengarkan. Di kepalaku berdenging ribuan kata-kata yang akan segera kuucapkan
padanya. Aku telah berlatih dalam hati untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan hati yang telah kubangun runtuh berserpihan.

"Layla, kau tidak menyimak kata-kata Pak Guru, anak nakal," teguran Dani membuyarkan renunganku. "Ada apa?"

Kutatap matanya. "Dan, Seto pulang."

Dahinya berkerut. "Seto?"

"Mantan Pacarku yang pergi ke Jerman."

"Oh," ia mengangguk. "Kapan?"

"Sebulan lalu, waktu aku ulan g tahun."

Ia mengangguk lagi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu. "Dia sudah menikah?" tanya Dani, seperti mendorongku bicara. Aku menggeleng.

"Lalu?"

"Dia ingin menikah denganku," ujarku cepat-cepat, tanpa memandang wajahnya. "Ia hanya di sini sepuluh bulan lagi. Karena itu, aku ingin kita segera menyudahi simulasi pacaran ini."

"Oh."

Dani tak mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan ringan, seolah-olah sambil lalu, "Kau yakin ia mencintaimu?"
Aku mengangguk.

"Kau yakin akan bahagia dengannya?"

Sekali lagi aku hanya mengangguk.

"Kalau begitu, selamat," ketulusannya terdengar hangat. "Aku ikut bahagia."

Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan aku tidak menemukan setitik pun
kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi hatiku.

Dani bertanya beberapa hal tentang Seto dan semuanya kujawab dengan antusiasme gadis belasan tahun yang mabuk asmara. Tapi setelah beberapa waktu, aku sadar
kalau ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan ceritaku.
"Dan?" tegurku.

"Ya?"

"Kau tidak mendengarkan. Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang berpikir, gadis mana yang bisa kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk menyudahi simulasi ini."

"Makasih ya Dan"

"Untuk apa?"

"Untuk setahun yang kau lewati denganku. Untuk kesabaranmu. Pengorbananmu."

Dani tersenyum kecil. " Aku tidak melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini setahun yang sangat menyenangkan untukku. Seharusnya aku yang berterima kasih."

"Jangan memaksa," aku mencoba bercanda. "Aku yang harus berterima kasih. Mengalahlah sedikit."

Dani tersenyum dan mencubit hidungku. Tangannya tidak sedingin tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiranku.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini," katanya.

"Entahlah, Dan," aku tertawa kecil. "Mungkin aku sudah sangat capai berkilah tiap kali ibuku dan teman-teman merongrong soal siapa kekasihku. Dan aku melihat usulmu itu sebagai
jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus, keenggananku untuk berpacaran, karena tidak ada calon yang pas; dan keinginan ibuku yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah."

"Apa yang kau dapat setelah setahun kita berpacaran?" tanyanya dengan mimik lebih serius.

Aku terdiam sejenak. "Banyak," jawabku akhir nya. "Aku belajar bahwa aku tidak berpacaran dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia, yang punya kekurangan
yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam berpacaran, bila kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan tidak selalu berarti kekalahan, tapi boleh jadi suatu kemenangan bersama."

Aku ingin menambahkan bahwa berpacaran membutuhkan cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi aku tidak punya nyali untuk menyatakan semua itu.

"Kau memang selalu pintar bicara," Dani tersenyum.

"Kau sendiri? Apa ya ng kau pelajari selama ini?"

"Hanya satu. Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi setelah kau pergi."

Aku tertegun. "Apa maksudmu?"

Dani bangkit dan duduk mencangkung menatapku. "Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi
berpikir aku adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini. Dan setiap waktu kau pulang kerja kau menemuiku dengan senyuman, aku merasa aku jadi manusia
paling beruntung di seluruh jagad raya. Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai berharap kau akan bersamaku ter us, walaupun harapan itu, aku tahu, konyol. Tapi kalau kau mencintai seseorang seperti aku
mencintaimu, kau akan kehilangan akal sehat."

Kutatap wajah Dani lekat-lekat. Ia tidak kelihatan sedang bercanda. Ia tampak sangat tenang dan serius.

" Aku masih belum mengerti," bisikku.

"Pacaran ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Layla. Ini adalah pacaran sesungguhnya untukku."

"Apa maksudmu kau mencintaiku ?" suaraku tercekik.

"Apa yang tidak kau pahami? Aku mencintaimu," kata-kata Dani begitu lugas, menghantamku seperti sebuah pukulan keras yang membuatku terempas. "Aku mencintaimu sejak kau memarahiku karena bukumu telat aku kembalikan, empat tahun yang lalu, Dan aku tidak
pernah bisa berhenti mencintaimu hingga kini."

"Kau ... kau tidak pernah ...."

"Kau tidak pernah memberiku kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati karena orang lain, dan kau selalu datang kepadaku
menceritakan semuanya. Aku tahu aku bukan lelaki idamanmu. Aku tidak menggambar. Tidak menulis puisi. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk berterus terang kepadamu."

"Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Dan," ujarku lirih. "Kau istimewa dengan caramu sendiri."

Ia mengangkat bahu. "Tidak cukup untuk kau cintai."

Sesaat aku hanya bisa terdiam, menatap kedua mata Dani, mencari tanda-tanda kalau semua ini hanya salah satu dari sekian banyak permainannya. Tapi ia kelihatan sungguh-sungguh.

"Kenapa kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti
ini? Apa yang kau inginkan?" tanyaku datar.

Dani tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam senyumnya, sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mesti mengatakan semua
ini kepada mu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci kepadaku atau melupakanku sekalipun." Ia tertunduk sesaat. Ada sorot yang asing berpijar di matanya saat ia kembali menatapku. "Dan kalau kau tanya apa yang kuinginkan, aku ingin kau disini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau belajar dan akhirnya benar-benar
mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam dan separah cintaku kepadamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya sekedarsahabatmu, tapi juga
kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang pernah kutunjukkan."

Ia menghela napas berat. "Tapi itu semua keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu juga."

Lama kami berdua saling berpandangan.

"Terima kasih, Dan," desahku akhirnya. Kupeluk ia erat-erat, menyembunyikan air mataku di bahunya.

"Aku sudah bicara dengan Dani, Set. Tapi aku terpaksa menunda menyudahi simulasi pacaranku itu. saat ini."

"Berapa lama?"

"Ent ahlah."

"Kau tahu waktu kita sangat terbatas, layla. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Jerman. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi. Mungkin tidak dalam setahun atau dua tahun ke depan. Dan kita akan kehilangan waktu yang
mestinya bisa kita lewati berdua."

"Aku tahu, Seto. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Dani sekarang. Dia membutuhkan aku."

"Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Layla. Dan pik irkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya bersama?"

Aku menghela napas panjang. "Entahlah, Set, " bisikku.
"Apa maksudmu?" suara Seto terdengar kaget.

"Aku . Aku tidak akan bahagia kalau Dani menderita."

"Layla! Kau tidak . Dengar, pikir baik- baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan bahagia?"

"Aku tidak merasa menderita menjadi kekasihnya."

"Tapi kau tidak bahagia!"

"Aku bahagia, Set. Mungkin tidak seperti saat aku bersamamu. Tapi Dani membuatku bahagia."

"Kau tidak bisa melakukan ini, Layla. Kau hanya kasihan kepadanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini."

"Aku bisa belajar memaafkan diriku sendiri."

"Layla, kau tidak mencintainya!"

"Ia mencintaiku. Itu lebih dari cukup."

"Kau hanya bingung, Layla. Aku mengerti. Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?"

"Aku tidak pernah akan lupa, Seto."

"Lantas apa yang membuatmu berubah piki ran secepat ini?"

"Dani mengajariku tentang cinta."

"Hanya karena itu?"

"Juga karena aku yakin, aku akan belajar mencintainya."

"Layla ...."

"Selamat tinggal, Set. Mudah-mudahan kau akan sebahagia aku nantinya, atau mungkin lebih bahagia lagi."

Telepon kututup sebelum air mataku luruh.

"Layla."

Aku tersentak dan berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Dani berdiri di belakangku. Wajahnya penuh tanda tanya dan ia menggeleng perlahan sambil duduk di lantai di sisi kursiku.

"Kenapa?" tanyanya.

Aku tak bisa menjawab. Air mataku menetes satu-satu dan dengan lembut ia menyeka pipiku dengan jarinya.

"Aku tak bisa melihatmu begini ," lanjutnya pelan. "Ini keputusan yang sangat konyol, Layla. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu sekali lagi?"

Aku mengangguk.

"Dia akan membuatmu sangat bahagia, Layla."

Aku mengangguk.

"Kau akan menyesal."

Aku mengangguk.

"Kau akan sedih, kecewa ...."

Aku mengangguk.

"Kau tidak mencintaiku."

Aku menggeleng.

Dani terbelalak. "Layla!" pekiknya tertahan.

"Dani!"


»»  baCa SeLengKapnYa dAn JgN MaLu beri KOMENTAR

Cinta Laki-laki Biasa

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alas an kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang mkamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup
hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. "

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan! "

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama,Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat
menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
»»  baCa SeLengKapnYa dAn JgN MaLu beri KOMENTAR

Selasa, 21 April 2009

SETELAH KAU MENJADI KEKASIHKU (bag. 1)

SETELAH KAU MENJADI KEKASIHKU (bag. 1)

Ketidak percayaan Layla terhadap laki-laki untuk dijadikan kekasih pendamping hidupnya membuat Dani menantang untuk melakukan sebuah simulasi pacaran karena Dani ingin membuktikan yang ada di benak Layla itu salah, merekapun melakukan simulasi pacaran.

”Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus pacaran dan ujung ujungnya tidak menikah juga," gerutuku. Dani tertawa. "Teman-temanmu menanyakan siapa kekasihmu saat ini, terutama ibumu?"

Aku mengangguk cemberut.

"Apa jawabanmu kali ini?" godanya.

"Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar."

Dani terbahak. "Kau kekanak-kanakan," katanya.

"Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan orang yang mengenaliku malah makin gencar menteror."

Dani tersenyum . "Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi orang-orang itu, apa kau tidak akan blingsatan kalau kau belum juga memiliki kekasih di usia tiga puluh."

"Aku akan sangat gembira kalau aku tidak memiliki kekasih untuk ku jadikan suami seumur hidupku," komentarku.

Alis Dani terangkat. "Kenapa?"

"Laki-laki hanya memperumit hidup perempuan."

"Untuk apa pacaran kalau yang kita dapat hanya kesedihan?"

"Mungkin karena kesedihan itu hanya efek sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?"

"Sok tahu," cibirku. "Kau sendiri belum memiliki kekasaih. Apa yang kau tahu tentang keuntungan berpacaran."

"Aku sudah cukup banyak belajar, layla. Umurku sendiri sudah tigapuluh empat, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga."

"Tapi kau tidak! Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi pacaran apa lagi menikah?"

dani tersenyum. "Ya, memang."

"Lebih enak hidup seperti ini. Bebas!"

"Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau pacaran atau menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas."

Dan aku menghela nafas panjang. "Ah, ya. Calon."

"Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak juga berpacaran?"
"Ya, " gumamku enggan.
"Bukan karena kau sama sekali anti berpacaran."

Aku menggeleng. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke pesta."

"Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu kan?"

"Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus," komentarku pahit. "Maksudku, aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku pergi."
"Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran."

"Dani!" kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil tertawa.

"Kau sadar kan kalau pacaran itu lebih dari sekadar mengontrak penggandeng tetap?" tanyanya kemudian, lebih serius.

"Ya. Justru itu. Aku tidak bisa membayangkan pacaran dengan orang yang salah. Kalau saja," aku terdiam.

"Apa?"

"Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki itu akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menjadi pacarku lalu menikahiku. Bagaimana seorang perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya ternyata lelaki yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, Menghina, orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat."

"Layla, laki-laki yang begitu sedikit sekali."

Aku menggeleng. "Semua laki-laki binatang."

"Bagaimana dengan aku? Aku laki-laki."
"Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat."

Dani sedikit kaget. Didekapnya dada kirinya dan ia terkulai di kursinya.

"Dani!" pelan bicaraku. "Nanti orang-orang memperhatikan kita!"

"layla, kau sadar kalau aku belum mati? Aku harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran menjadi malaikat," dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah terjulur.

"Dani, Dani," desahku.
"Kalau kau memang mau berpacaran lalu menikah, berobatlah." Ia tergelak. "Dan kau. Kalau kau memang mau berpacaran lalu menikah, percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan laki-laki."

"Aku tidak bisa, Dan."

"Berarti kau memang tidak bisa berpacaran. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan kalau kau memaksakan diri, kau akan merana. Dan kalau kau sengsara kau akan makan makin banyak. Dan kalau kau makan banyak-banyak kau akan ----------?"

"Dani!" walaupun nada suaraku keras, aku tak bisa menahan senyum mendengar pernyataan konyol itu. Meski baru tiga tahun menjadi sahabatku, tapi ia benar-benar telah memahamiku.

"Apa kau pernah berpikir tentang orang-orang yang mengenalimu?" katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa menjadi sangat jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian detik.
"teman-temanmu pasti sangat senang kalau kau punya kekasih tetap dan ibumu akan lebih tenang kalau tahu kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan melindungimu."

"Jangan bicara begitu," cetusku, kembali manyun.
"Satu, ini hidupku, bukan hidup mereka yang mengenaliku. Tapi kalau misal saja kekasihku berkhianat, apa mereka mau menanggung rasa malu dan sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa menggaji lebih banyak pembantu, plus bodyguard kalau perlu."

"Baik, baik, Tuan Putri. Hamba mengaku salah," Dani membungkuk dalam-dalam."Jadi, dengan asumsi kau tidak sama sekali menihilkan kemungkinan memiliki kekasih, apa yang ingin kau capai dengan itu?"


Aku tertunduk lemas. "Itulah, Dan," desahku. "Aku tidak tahu. Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya pekerjaan dengan masa depan yang lumayan. Jadi berpacaran atau menikah untuk alasan ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku. Aku punya teman-teman diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan alas an bagiku untuk berpacaran atau menikah."


Dani termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. "Cinta mungkin?"
"Kau terlalu banyak menonton film romantis ," olokku. "Kau tahu berapa lama cinta bertahan dalam suatu hubungan?"

"Berapa lama?"

"Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi, frustrasi dan imajinasi."

"Imajinasi?"

"Kalau kau terjebak di dalam penjara dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu, kau harus membayangkan berpacaran dengan Primus atau Anjasmara kau bisa jadi gila."

"Astaga," gumam Dani. "Kalau itu terjadi padaku, siapa menurutmu yang harus kubayangkan? dian sastro atau Sarah Azhari?"

"Gorila," jawabku sekenanya dan Dani meledak tertawa.

"Dani," keluhku. "Berhentilah tertawa. Aku bukan pelawak. Aku sedang membicarakan masalah serius, dan aku sebal kau tertawai terus menerus."

Wajahnya serta-merta menjadi serius. "Aku tidak menertawaimu. Kalau kau benar-benar sahabatku, kau tahu beginilah aku menyikapi semua masalah, yang tergenting sekalipun. Termasuk masalah ini. Cobalah. Kau akan merasa jauh lebih baik. Kalau mereka menanyakan lagi siapa kekasihmu, tertawalah.Tertawalah keras-keras."

"Dani, kau benar-benar tak tertolong lagi," gumamku. "Aku perlu solusi, dan bukan ide-ide konyol."

Dani membisu. Dan untuk beberapa waktu kami berdua sama-sama merenung.

Akhirnya, Dani bicara dengan hati-hati. "Layla, aku tahu ini akan kedengaran gila. Tapi dengar dulu. Aku rasa saranku ini bisa menyelesaikan kedua masalahmu. Pertama, ketidakpercayaanmu pada ras laki-laki. Kedua, ketidakmengertianmu kenapa kau butuh seorang kekasih yang kelak menjadi suami."

Aku mengangguk, dalam hati bersiap-siap untuk mempertahankan mimik seriusku walaupun ide yang akan dilontarkan Dani nantinya ternyata kelewat sinting dan karenanya teramat sangat kocak.

"Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal, dan ini sangat sangat penting, jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa kau percaya kepadaku?"

Kutatap Dani dengan dahi berkerut. Ia telah jadi sahabatku meskipun baru tiga tahun tetapi banyak yang berubah dalam hidupku, dan setidaknya tiga lelaki telah hadir dan menghilang dari hidupku. Hanya Dani yang tak berganti. Ia seakan-akan selalu siap mengulurkan tangan menolongku, sementara selera humor-nya tak pernah gagal membantuku keluar dari depresi yang paling parah sekalipun. Kalau ada satu laki-laki di dunia yang kuhadapi dengan hasil nyaris nol, hanya Dani orangnya."Ya. Aku percaya kepadamu."

"Kalau be gitu, percayalah bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu. Percayalah bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat jahat terselubung di balik ideku ini. Percayalah."

"Dani! " potongku tandas. "Ide apa?"

"Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen," ia bicara dengan hati-hati, kedua matanya terpan cang pada ekspresi wajahku. "Kita berhubungan seperti layaknya orang berpacaran."

"Apa?"

"Simulasi!" lanjut Dani sesegera mungkin. "Ya simulasi pacaran"


Dani mengangkat tangannya menyuruhku diam, "Simulasi. Sekali lagi, simulasi. Aku akan menjadi kekasihmu –simulasi? sambil mempelajari kenapa kebanyakan manusia y ang normal dan waras begitu berambisi untuk berpacaran lalu menikah Kalau pada akhir eksperimen kau merasa yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding dengan keuntungannya, kita akhiri simulasi itu dan kau bisa hidup sendiri lagi, merdeka selama-lamanya. Kalau ternyata kau kecanduan hidup sebagai kekasihku, kita putus dan kau bisa cari kekasih yang paling cocok untukmu. Anggaplah ini Sebagai tes untuk melihat apa kau akan memilih berpacaran atau tidak. Tanpa komitmen, tanpa penalti. Bagaimana?"

"Dani," desisku. "Ini ide terbodoh y ang pernah kudengar."
"Semua gagasan jenius selalu diolok-olok pada awalnya," sanggah Dani mantap.
"Pikirkan, Layla. Ini satu-sat unya cara supaya kita bisa belajar seperti apa berpacaran itu sebenarnya tanpa perlu sungguh-sungguh Kau tidak mungkin melakukannya dengan laki-laki selain aku, yang telah terbukti memiliki
sifat ksatria, dapat dipercaya dan teguh pendirian...."

"Serius, Dani, serius!"

"Dan kau sama sekali tidak melakukan pengor banan apa pun. Kau tidak akan mengalami kerugian apa pun."

"Kecuali waktu mu ...."
"Simulasi," Dani mengingatkan sambil mengangkat telunjuk.

"OK. Pacaran simulasi," geramku.
"Simulasi."

"Dani!"

"Layla!"

"Oh, Tuhan," aku bangkit dengan marah dan beranjak keluar. Dani segera menjejeriku.

"Layla, kau tidak perlu semarah ini," katanya. "Apa aku sejelek itu di matamu hingga kau bahkan tidak mau pu ra-pura berpacaran denganku?"

Aku berhenti berjalan dan menatap wajahnya. Dan menggeleng. "Biarpunwajahmu seperti bunglon sekalipun, aku akan tetap memujimu di depan perempuan malang manapun yang mencintaimu."

Matanya berbinar. "Kau tidak marah lagi, kan?"

Aku menggeleng. "Aku bukan marah karena idemu, Dan. Aku tahu otakmu memang selalu korslet tiap kali memikirkan jalan ke luar dari suatu problemserius.Aku mengerti. Aku hanya kesal karena kau sepertinya tidak peduli dengan masalahku."

"Justru karen aaku sangat peduli aku mengusulkan ini, layla," ekspresinya tampak begitu tulus.

"Terima kasih. Tapi ide itu memuakkan."

"Pikirkan dirimu yang selalu diberendel pertanyaan-pertanyaan oleh orang-orang yang mengenalimu tentang kesendirianmu yang hingga kini tidak mempunyai kekasih , layla. Kalau meraka tahu kau berpacaran denganku, mereka yang selama mengenaliku sang at baik, sopan, hormat kepada orang tua, ulet, tangguh...," ia berhenti saat melihat raut wajahku,
"mereka akan setuju dan aku yakin orang tuamu pun akan setuju."

Ia diam sejenak. "Aku janji akan menggandeng tanganmu di setiap pesta. Dimana pun."

Ucapannya begitu menyentuh hatiku hingga aku nyaris menangis terharu. Kalau saja di antara bekas-bekas kekasihku ada yang mengatakan itu kepadaku, aku pasti sudah lama sekali menikah, pikirku sebelum menertawai diri sendiri. Perempuan yang tidak butuh seorang pelindung, tapi haus digandeng tangannya. Aku pasti sama kurang warasnya dengan Dani.

"Apa aku harus bermesraan?" tanyaku nyaris berbisik.

"Sesekali mungkin, kalau kita sedang ada di lingkungan yang mengenali kita," matanya kembali tertawa. "Di pipi. Aku tidak akan melewati batas. Kalau kita hanya berdua, kau bebas untuk meninjuku, menjambakku...."

"Dani," teguran itu lebih lembut daripada yang kuinginkan dan Dani tersenyum.


Sebulan pertama Layla berusaha mengerti kebiasaan Dani yang selalu menghabiskan di selang waktunya bermain games di komputer Di minggu kelima dia protes, dan mereka bertengkar. Pertengkaran terhebat yang pertama.mereka banyak melakukan pertemuan di tempat tinggal dani

Dani bertanya sambil menggaruk kepala. "Bisakah kau menghubungiku tiap hari?" pintanya. "jika aku tidak menghubungimu"

Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya sebuah permainan. Tidakkah Dani akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya? Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang kekasih, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.

aku tersenyum dan beranjak dari kursi dan mengambil sebuah bolpoin merah. Dilingkarinya tanggal hari itu di kalender yang ada di atas meja komputer tempat Dani menghabiskan waktu.


"Masih banyak detil-detil seperti ini yang mesti kita sepakati," lanjutnya.
"Misalnya, aku ingin kau sempatkan beri tahu aku jika kau pergi sendiri atau dengan siapa dan mesti pulang larut malam."

Dahiku berkerut. "Untuk apa?"

"Apa kau tidak melapor kepada orang tuamu kalau kau akan pergi dengan siapa atau sendiri dan pulang hingga larut malam?" Aku menggeleng. "Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang bodoh."

"Tapi aku kekasihmu. Simulasi memang. Aku perlu tahu kenapa dan di mana kau kalau pulang larut malam."

"Kau kedengaran seperti diktator."

"Kurasa aku tidak minta terlalu banyak."

"Itu terlalu banyak untukku."

dani meletakkan tulunjuk di bibirnya dan me natapku dengan mata menyala. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya marah. Tapi aku yakin aku tak salah membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar marah.

"Ingat," lanjutku hati-hati. "Aku bukan benar-benar kekasihmu. Kau tidak punya hak untuk mengaturku seperti itu."

Ia menunduk lama sekali, tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang tempat kami melakukan pertemuan itu menjadi sangat sunyi senyap. "Baik. Kalau itu maumu," desisnya kemudian.

Aku ingin mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan Dani memburuk. Tapi aku tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Dani akan semakin berang karenanya.

Dani meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke ruangan depan tepatnya ruangan yang menjadi tempat kumpul teman-temanya Tak lama ia kembali menemuiku di ruang komputer

"Aku pergi, layla," katanya dingin.

Aku bangkit dari kursi menghampirinya , berniat untuk memperbaiki situasi.
"Sebagian teman-temanku menyarankan ini," ujarku sambil meraih tangan kanan Dani dan menempelkannya di bibirku. "Kupikir ada baiknya kucoba. Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium keningku."

Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Dasar tidak tahu terima kasih!

ke esokan harinya Aku sengaja pergi dan pulang larut malam. Dalam perjalanan pulang kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang pasti diberondongkan kawan-kawan yang biasa bersamaku menghabiskan sore hari.

Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku. Aku tahu Dani telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang kekasih, mestikuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Dani sebagai keksaihku. Bagiku, iahanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu
banyak.

Mataku tertaut pada cincin perak mungil yang disisipkan Dani di jari manisku saat aku menerima sebagai kekasihnya meski simulasi. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalampermainan ini, Dani adalah kekasihku Dan sebagai kekasihku, tuntutannya wajar. Kalau aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya satupelajaran pertama dari permainan ini. Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku benci kekalahan. Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu hal dari semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan. Getir memang. Aku yakin Dani akan menertawaiku. Kalau ia tidak marah-marah dulu.

Alangkah terkejutnya aku ketika keesokan harinya sepulang kerja tepat pukul setengah delapan malam aku berkunjung kerumahnya dan mendapati rumah gelap dan kosong. ?

Kucoba menghubungi ponselnya dan hanya mendapati mailbox. Dengan menggunakan berbagai tipu daya, kutelepon rumah orang tuanya. Aku bahkan mencoba mengontak teman-temanya, tanpa hasil. Dani tidak ada di mana-mana. Inikah balasannya atas penolakanku Kemarin? Kekanak-kanakan sekali!

dengan melarutnya malam, aku kembali pulang kerumahku dengan kecemasanku terhadap Dani. Apalagi hingga pagi ponsel Dani saat di hubungi tetap saja mailbox. bahkan sengaja sebelum berangkat kerja aku mampir kerumahnya Dani,namun tetap saja tak terlihat adanya Dani dan kutulis pesan di pintu rumahnya agar dia menghubungi ponselku saat dia membaca pesan yang kutulis di selembar kertas yamg ku tempelkan di pintu rumahnya. sepulang kerja dan tiba di rumahku Dani tetap tidak menelponku. Malam itu kulewatkan di sisi telepon. Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas dibenakku saat aku angkat

"Layla?"

"Dani?" jeritku. "Kau di mana?"

"Layla, aku minta maaf karena marah dan membiarkanmu begitu saja. ?"

"Dani, !" meskipun aku tersenyum, air mata kelegaan mulai meleleh dipipiku.

"Kau di rumahmu?"

"Di luar."

"Di luar rumah?"

"Ya. kunci rumahku hilang Dan saat ini aku lapar."

"Oh, Tuhan...."kututup telpon ku

Aku lari ke luar rumah dan kubawa makanan yang ia suka lalu pergi dengan taksi menuju rumah Dani dan sesampainya di rumah Dani kulihat Dani duduk di kursi terasnya. sambil menghisap sebatang rokoknya

"Kau keterlaluan! Aku menelpon orang tuamu dan dia bilang kalu kau tak ada,aku telpon teman-temanmu dan mereka tidak ada yang tahu dimana kau berada bahkan aku sudah berpikir untuk menelepon kantor polisi!" teriakku kepadanya.

"Aku juga rindu kepadamu!" balas Dani tertawa. Dan mataku rasanya semakin perih melihat tawanya lagi.

"Di mana saja kau selama ini?"

"Di hotel kecil dekat dari sini."sambil berusaha mencongkel pintu yang kuncinya hilang itu dan berhasil membukanya.. kami pun masuk dan duduk di meja makan sambil membuka makanan yang aku bawakan dan iapun lahap memakan makanan yang aku bawa, tidak lama aku lihat Ia baru saja menghabiskan piring ketiga soto ayam kesukaannya. Ia tidak berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membawa semua makanan kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap. "Kenapa kau akhirnya memutuskan untuk pulang?" suaraku bergetar. "Aku perlu baju bersih," ia tertawa malu. "Laundri hotel mahal sekali."

Saat ia mencuci piring makannya, dengan punggungnya ke arahku, ia menyambung,
"Selain itu , aku mengkhawatirkan dirimu ." Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu.

"Aku pulang ," ucapku perlahan. "besok Aku harus lembur. Dikejar deadline."

Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik menatapku. Tapi mataku terpaku pada es krim di hadapanku.

"Oke," katanya. "terima kasih kau sudah pedulikan aku"

hari-hari pun aku lewati dan setiap pertemuan Aku bisa mentolerir kebiasaan Dani membiarkan koran yang telah dibacanya berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya nonton komedi yang paling tidak kuminati, dan sepak bola olahraga yang menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannya mengeluarkan pasta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak dari bawah seperti yang biasa kulakukan.

Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya menghabiskan akhir pekannya. Setiap Minggu siang ia berangkat sebelum pukul dua untuk bermain futsal dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul setengahlima, ia pergi memancing. Untukku yang selalu menghabiskan waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan, kebiasaan Dani itu sama sekali tidak bisa kupahami. Aku tak sanggup menontonnya main futsal atau menemaninya memancing, karena aku dengan sangat cepat akan merasa jemu.

Sebulan pertama aku berusaha mengerti .hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi dipekan kelima saat aku sengaja datang kerumahnya kesabaran ku tandas, dan minggu siang itu, saat ia tengah memasukkan botol air minum dan kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak memancing. "Temani aku jalan-jalan ke mal sore ini," pintaku.

"Kau kan bisa pergi sendiri," katanya sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil.

"Seingatku kau berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke manapun."

"Aku tidak bisa mangkir futsal hari ini, Layla," ia masih tetap tak memandang ke arahku, sibuk dengan sepatu bolanya. "Aku sudah janji dengan kawan-kawanku untuk mencoba tempat futsal baru."

"Kau bisa mencobanya minggu depan."

"hari ini aku terlanjur janji pada teman-temanku."


"Minggu depan voucher diskon salonku sudah tidak berlaku lagi," gumamku.

"Pakai voucher dariku saja," sahutnya ringan sambil mulai lari-lari di tempat.
"Berapa diskon yang kau dapat dengan voucher itu? Kalau kuberi dupuluhlimaribu cukup?"

"Dani! Itu hanya cukup untuk beli minum selama di salon."

"Aku bisa cukur rambut plus dipijit plus minum kopi dengan duapuluhlimaribu."

"Oh, Tuhan!"

Daniberhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di pinggang.
"Layla, kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi."

"Aku sudah cukup yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh Cuma keluar dari rutinitas harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan."

"Jadi? Apa yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau bawakan aku oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan."

"Ini bukan masalah kau melarang atau tidak, Dan. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu teman."

"Kalau begitu ajaklah teman-temanmu."

"Sudah. Mereka punya acara sendiri-sendiri. Dengan pacar-pacar mereka."

Dani mengerutkan keningnya. "Kau mau melewatkan hari Minggu denganku?"

"Ya!"

"Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau boleh ikut ke lapangan futsal lagi. Aku akan senang kalau kau ada di sana."

"Dani!" jeritku. "Kau ini buta, atau tuli sih? Kau tahu aku benci sepak bola dan lebih benci lagi memancing!"

Mata Dani menyipit. "Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal," desisnya.
"Kupikir sudah waktunya kau mengalah sekali-sekali."

"Mengalah!" suaranya meninggi. "Apa aku masih kurang mengalah selama ini?
Layla, kau sudah menyita enam hariku, apa kau tidak bisa memberiku...."

"Enam hari? Enam kurangi enam! Kita hanya benar-benar bertemu dan bicara satu jam setiap bertemu dan satu jam setiap makan malam!" "Kita bisa mengobrol lebih banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan waktu denganku! Tapi tidak! Kau lebih memilih membaca majalah

"Dan, waktuku terlalu berharga untuk dipakai menyaksikan orang-orang konyol dan bodoh yang menurutmu kocak apa lagi menyaksikan dua puluh dua orang memperebutkan satu bola kulit!"

"Setidak-tidaknya itu lebih jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu yang becek air mata itu!"

"Kau kekanak-kanakan!"

"Dan kau, Tuan Putri, kau egois!"

Ia menyambar tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu samping. Aku masuk ke ruang makan dan membanting pintu di belakang. Seperti inikah perasaan para wanita setelah bertengkar dengan kekasihnya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Dani melakukan semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali sejak aku melakukan pacaran --simulasi-- dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku, pulang dari kantor sesegera mungkin,menemui Dani dan selalu memperhitungkan apa ia akan menyukai makanan yang kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya untukku ? Tidak!


Meski sudah bersikap menyebalkan, layla tidak berhasil membuat Dani marah. Pria itu malah bersikap sangat manis.

Wajah Dani benar-benar merah sekarang. "Layla! Jangan main-main denganku! Aku tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan cemberut sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam lagi."

"Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau pergi."

"Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es krim dan cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar dan melar...."

"Dani!" jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke arahnya. Ia terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri t-shirtnya.

Dani pergi ke kamarnya, membanting pintunya , Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku takut, takut sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali sama sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan tanganku dan aku terus menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat memaksaku tertidur di sofa Sorenya aku terbangun dan melihat keadaan rumah sepi. Dani pasti telah pergi memancing. Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena kata-kata kasarnya membuatku makin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada pilihan lain kecuali meninggalkannya dan pulang ke rumahku. Saat itu Dani datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak ia memasuki pintu gerbang. Siulannya berhenti saat ia melihat ku akan pergi

"mau pulang? " tanyanya.

"ya ."

Ia masuk dan duduk di sofa mengawasi gerak-gerikku. "Semudah ini kau menyerah?"

"Ini diluar dugaanku."

"Apa?"

"Aku tidak mengira aku memacari monster."

Dani terdiam, menunduk.

"Aku...," katanya lirih. "Aku bawa pizza kesukaanmu."

"Aku sudah terlalu gemuk."
Ia menggeleng dengan ekspresi bersalah, "Tidak. Kau cantik."
"Aku tidak butuh pendapatmu. Kau bukan kekasihku, ingat? Penilaianmu tidak punya
arti apa-apa."

"Aku sudah mencoba jadi kekasihmu yang baik."

"Kau gagal."

"Setidaknya aku mencoba. Kau ... kau tidak melakukan apapun supaya pacarankita berhasil...."
"Simulasi."

Ia menghela napas panjang dan mengangguk singkat. "Simulasi."

"Kau salah, Dan. Aku sudah melakukan terlalu banyak. Sudah belajar terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan berpacaran dan menikah. Aku tidak suka pacaran lalu menikah. Apalagi denganmu."

Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar , aku masih duduk. Semua topeng ketegaranku hancur berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Dani bisa menyakitiku sehebat ini. Lama kemudian. setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku bangkit. Kurapikan dandananku dan keluar.

"Setidaknya tunggulah sampai hujan reda," suara Dani menyambutku.

"Terlalu lama," gumamku. "Aku tidak bisa disini denganmu selama ini."

Aku tak peduli hujan yang serta merta meng guyurku basah kuyup Saat aku membuka pintu gerbang. Meninggalkan Dani secepatnya, hanya itu yang ada di benakku. Dan ketika aku mulai berjalan.

Saat itu aku melihat Dani menghampiriku Tanpa mengatakan apa-apa ia hanya memberikan jaket untuk menghangatkan badanku yang di basahi air hujan

"Ayo pulang," katanya.

Aku menggeleng tanpa berani menatap wajahnya.

Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan perlawananku. Ia membopongku sampai ke rumah, tak memberi ku kesempatan untuk melarikan diri.

Setiba di dalam, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di saku. "Ganti bajumu," katanya.

"Ambil bajuku."

"Tidak akan pernah!"

Ia mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata berkobar,"Ini bukan waktunya melawanku, Layla. Kau bisa sakit!"

"Monster," desisku.

malam itu suhu badanku meninggi hingga tak sadarkan diri Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun sadarkan diri ternyata aku sudah ada di kamarku dan nyala api dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan cahaya matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma melati dari rumpun di luar kamarku.

yang paling menyakitkanku adalah, Dani sama sekali tak peduli aku sakit. Aku berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh satu-satu.

Sore itu ketika Dani datang, aku berpura-pura tidur. Aku sama sekali belum siap untuk bicara lagi dengannya. "Bagaimana, Bu?" tanyanya kepada ibuku yang sedang berada dikamarku , suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di dahiku, sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia menyentuh leherku, dan kalaupun aku sanggup
menepiskan tangannya dengan tenagaku yang nyaris nihil, aku tak akan mau melakukannya.

"Tadi bangun sebentar , menanyakan kamu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu."

Tangan Dani berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut. Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia bangkit dan merapikan selimutku sambil berjalan keluar.
.
Aku ingin menghukumnya karena kata-katanya yang menyakiti perasaanku. Aku ingin menghukumnya karena ia melukai harga diriku. Dan aku ingin menghukumnya karena ia membuatku benci pada diriku sendiri. Ia yang membuatku sakit dan entah berapalama tak berdaya, bahkan terpaksa membiarkannya mengurusku seperti bayi. Ia harus membayar untuk semua penghinaan itu. Aku benci, sangat benci padanya. Aku membuat segalanya sangat sulit untuk Dani sore itu. Aku memberontak saat ia mencoba menyuapiku. Aku menolak saat ia memintaku makan obat.

Semua itu akan membuatku sangat puas kalau saja Idan mau menolak, memprotes, mengeluh, atau bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh, tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Makin lama aku makin menyadari kelembutan dalam suaranya ? yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran -- dan kelelahan di matanya ? yang aku tahu hanya bisa datang dari keputusasaan. Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti kasihan, sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan. aku mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi setiap kalimat yang kuucapkan, dan aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu. Selama tiga tahun persahabatanku dengan Dani, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?.......bersambung.....
»»  baCa SeLengKapnYa dAn JgN MaLu beri KOMENTAR

SEMUA TENTANG CINTA

HASIL TULISANYA KALIAN DA Di SINI (BLOGNYA KALIAN SMUA)

DaFtaR Tamu


ShoutMix chat widget
 

Copyright © 2009 by TempatnA Unek-unek Si Abaz